Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2014

Napak Tilas Pelayanan Pdt. Dr. Ingwer Ludwig Nommensen di Tanah Batak



 

PARTISIPASI
Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen
Dalam Perkembangan Misi di Tanah Batak
1. Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen lahir pada tgl. 06 Februari 1934 di Noordtrand Jerman, nama isterinya adalah: Carolina Margareta Nommensen. Pada tahun 1861, Gereja Kesatuan Barmen mengutus Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen untuk melayani di tanah Batak. Persiapan yang begitu panjang, suka maupun duka telah di alami Pdt. Dr. Ingwer Lodewijk Nommensen melayani di tanah Batak. Pada hari 16 Mei 1962, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen telah sampai di Padang dan melanjutkan perjalanannya ke Sibolga, pada tgl. 16 Juni 1862.

2.       Awal pelayanan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, adalah di Barus – Sibolga. Saat itu orang Batak sangat takut melihat orang yang disebut “Sibontar Mata”, lagi pula komunikasi sangat-sangat sulit karena bahasa yang berbeda. Namun atas penyertaan Tuhan pun dapat dilaksanakan dengan baik. Di Barus, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, mengalami kejengkelan orang Batak, sebab periuk yang penuh nasi di rumah Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, habis dicuri mereka.
Disaat Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen memainkan harmonikanya dengan suara lagu-lagu rohani yang belum pernah didengar orang Batak. Saat itu raja-raja dan masyarakat Barus berpikir, bahwa binatanglah yang bernyanyi itu. Karena herannya, mereka pun meminta harmonika itu untuk mereka pegang dan untuk dibunyikan, lalu Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun memberikannya, tetapi telah lebih dahulu dibukanya alat tiupnya. Raja mencoba meniup harmonika itu, tetapi tidak bisa dibunyikan. Lalu raja berkata, bahwa binatang yang dimaksud mengenal tuannya, lalu raja itu mengembalikan harmonika itu kepada Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, karena tidak dapat dibunyikan.
Di Barus Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, banyak mempelajari Bahasa Indonesia dan Bahasa Batak, ditambah apa yang telah dipelajarinya selama di Kapal Laut dari Pdt. Dr. Van der Tuuk. Masih banyak desa yang dikunjungi Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen di Barus dan Sibolga.

3.    Pada tgl, 30 November 1862, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen kembali ke Sibolga, mereka mengalami badai yang begitu dahsyat, karena gelombang laut yang tinggi, namun atas penyertaan Tuhan, mereka pun selamat sampai di Sibolga. Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, melanjutkan perjalanannya ke Sipirok dan Sigompulon Pahae. Mereka pun bertemu dengan Pdt. Van Asselt dan Pdt. Heine yang kebetulan menghadiri rapat raja-raja di Sarulla Pahae.
Karena Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen tidak mendapat Pdt. Heine di Sigompulon, maka ia pun menjemput mereka ke Sarulla, tetapi di tengah jalan, mereka pun berjumpa di hutan belantara yang pernah di alami di Pulau Sumatera.

4.       Rapat Pendeta pertama di tanah Batak – Parau Sorat – Sipirok: Pada tgl. 07 Oktober 1861, diadakan rapat empat orang Pendeta di Sipirok antara lain: Klammer, Betz, Heine, dan Van Asselt. Selanjutnya pada Tgl. 07 Oktober 1862, mereka pun menentukan program kerja yang segera dilaknasakan di Sipirok Tapanuli Selatan.
Pdt. Van Asselt melayani di Sarulla, sementara Pdt. Klammer di Sipirok. Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun sementara menjadi tinggal di Parau Sorat – Sipirok, yang seogiannya Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen akan berangkat ke Silindung atau Tarutung.

5.       Pada Tgl. 07 November 1863, sesuai dengan pesan dari Badan Zending Barmen Jerman, melalui inspektur Van Rhoden yang berpesan kepada Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen: “Jangan engkau melupakan pemberitaan Injil ke Silindung”. Untuk mewujudkan pesan ini: Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, berangkat dari Bunga Bondar ke Silindung melalui Simangambat, tentu ia menaiki kuda beban, sebagai alat transportasi terhormat saat itu.
Disamping perjalanan mereka menuju Silindung, saat itu sedang terjadi peperangan di Pangaribuan. Mengingat kebiasaan, jika terjadi peperangan antara masyarakat, maupun disebabkan serangan musuh, semua orang akan masuk ke lubang yang telah disediakan para penduduk desa, maupun ke bukit-bukit gunung.
Disaat peperangan itu terjadi Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun teringat tentang perjuangan kekristenan yang mencari lubang sebagai persembunyian disaat ada peperangan. Dilubang itulah ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan masyarakat yang ikut bersama dia bersembunyi di lobang itu. Ia percaya, bahwa Tuhan Allah selalu yang setia, pasti menjaga Israel tidak pernah terlelap (Ibr 11: 38).
Keesokan harinya, berita kedatangan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen telah tersiar di Pangaribuan, maka mereka pun memohon kepada Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen untuk mendamaikan peperangan mereka. Atas penyertaan Tuhan, masyarakat yang sedang berperang itu dapat rukun kembali. Setapak demi setapak perjalanan pun mereka lanjutkan. Dan ketika mereka sampai di antara Desa Lumban baringin – Sipoholon dan Pansur Napitu, artinya mereka telah sampai di Bukit Siatas Barita (= Tempat Salib Kasih sekarang).

6.       Janji Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen untuk tanah Batak:  Dari puncak bukit Siatas barita, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen telah dapat melihat keindahan “RURA SILINDUNG”, panorama yang indah, perkampungan masyarakat yang indah, persawahan yang melintang panjang, air Sigeaon yang mengalir dengan lembutnya. Tentu hati Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun sangat tertarik dan senang untuk tinggal di SILINDUNG. Di Bukit Siatas Barita Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen berbicara kepada Tuhan :”MANGOLU MANANG MATE PE AHU, SANDOK DI BANGSO NA HINOPHOPMON MA AU MARINGANAN,  PARARATHON HATAM DOHOT HARAJAONMU” (= Mati maupun hidup, aku akan melayani bangsa yang telah ditebus Kristus, untuk mewartakan Firman Allah dan kerajaanNya”. Mereka turun dari Bukit Siatas Barita melalui perkampungan Sipinggan sampai di Sait ni huta - Tarutung.


Para raja dan masyarakat terkejut melihat kehadirannya di Sait ni huta, mereka pun bertanya tentang apa maksud kehadirannya di sana. Dari sekian banyak pertanyaan para raja dan masyarakat yang diajukan kepada Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, ia pun memberikan jawabannya demikian: “Aku mau mendirikan rumahku di antara kamu, untuk mengajarkan tentang barangsiapa yang mau berbahagia (= Martua), dan memperoleh pengetahuan (= Parbinotoan).
Diwaktu senggang Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun memainkan harmonikanya dengan suara lagu-lagu rohani yang biasa dia buat untuk cari perhatian pendengarnya. Lagi pula Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen telah memahami kejiwaan orang Batak yang suka akan lagu-lagu. Disaat itu ada Pasar, yang disebut Onan Sitahuru, para raja-raja pun datang untuk mengulang cerita tentang kehadiran Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen di Silindung. Para raja-raja menuding Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen sebagai mata-mata kompeni Belanda yang mau merampas tanah mereka, jika hal itu terjadi maka kepala Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen akan dipenggal ditengah pasar Sitahuru. Namun Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen dengan rendah hati menjawab: “Itu semua tak mungkin dapat kamu lakukan, karena hal itu tidak dikehendaki Tuhan”.
Seminggu setelah perdebatan yang sengit itu terjadi, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun menjelaskan kehadirannya di Silindung. Ia adalah seorang Pendeta, dan ia bukan suruhan Kompeni Belanda seperti yang dituduhkan raja-raja itu.  Selanjutnya para raja-raja pun menerima dan mendukung kehadirannya di Silindung. Sekalipun ia telah sampai di Silindung, namun ia masih tetap tinggal di Bunga Bondar Sipirok sampai bulan Mei 1864. 

7.       Pada bulan Mei 1984, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen kembali lagi ke Silindung, tetapi keadaan sangat menyedihkan, sebab SOPO (= Tempat padi jika panen) yang menjadi tempat tinggal Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, tidak dapat di huni lagi karena sudah panen, pemilik Sopo pun mengusir Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen. Pada akhirnya, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun membeli sebuah rumah salah seorang keluarga yang sering diserang penyakit. Rumah ini dibeli Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, dengan tujuan raja-raja yang menolak dia serta pemilik rumah itu, agar Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun diserang penyakit yang dimaksud. Sebagai hamba Allah Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, tidak pernah lelah dan pantang menyerah. Setelah ia tinggal di Huta Dame (= Sait ni huta).  Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun mau membangun rumah itu serta menyuruh masyarakat untuk mengambil bambu, kulit kayu ke hutan, namun mereka sangat licik. Mereka tidak tepat janji, mereka mau disuruh Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen mengambil bambu dan kulit kayu, tetapi tidak mereka tepati, mereka lama-lama , bahkan seminggu dengan maksud supaya harian mereka ditambah oleh Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, sekalipun tugas mereka tidak dilaksanakan.
Melihat keadaan ini hati Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun jadi sedih, sebab bambu dan kulit kayu tidak kunjung tiba, namun gaji mereka tetap dibayar. Tentu orang yang disuruh Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen mengambil bambu dan kulit kayu itu menjadi bahan ejekan dari orang yang menerima dan mendukung kehadiran Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen di Silindung.

8.       Pada tgl. 12 Juni 1864, Pembangunan rumah pun sudah selesai yang dibuat dari bambu dan kulit kayu yang diikat dengan rotan. Suatu saat kelompok penjahat yang mau mencelakai Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen mencoba memotong rotan pengikat bangunan rumah itu. Tetapi Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen melihatnya dan memperbaikinya kembali. Tempat kediaman Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen disebut GODUNG (= Sebutan yang biasa dipakai sebagai tempat kediaman Hamba Allah).
Disaat peresmian rumah Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, para raja dan masyarakat Silindung memohon kepada Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen untuk memotong kerbau yang akan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Namun, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, memahami kejiwaan termasuk tradisi orang Batak saat itu, jika salah membagi jambar (= Bagian masing-masing), bisa nantinya menimbulkan permusuhan maupun peperangan di antara mereka. Maka hal itu pun tidak dilaksanakan, sehingga para raja-raja dan masyarakat menyebutkan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen sebagai orang pelit (= Naholit). Dan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun meng“Ya”kan ejekan mereka, dan mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Para raja-raja yang menganggap lebih hebat akan tetap berusaha menghalangi kehadiran Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen di Silindung, tujuan mereka adalah untuk mencari perhatian Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen supaya bersahabat (= Maraleale) dengan mereka.

9.      Pada Tgl. 30 Juni 1864. Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen menelusuri tentang kematian Samuel Munson dan Henry Lyman yang mati dibunuh di Sinaksak, (= Bahkan menurut cerita, kedua Pendeta ini dimakan di Lubu Pining jalan Sibolga).
Di saat itu Raja Panggalamei Lumbantobing, duduk di rumahnya, dan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun masuk ke rumah itu dan duduk mendekati raja Panggalamei. Melihat kedatangan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, raja Panggalamei pun bagaikan disambar petir, tidak dapat bicara apa-apa. Lalu masyarakat Lobu Pining mengajak raja Panggalamei untuk menyediakan tikar, disitulah raja Panggalamei dapat bergerak dan berkata: “Aku panggil dulu isteriku untuk menyediakan nasi bagi kamu”. Tetapi hal ini adalah bahasa bohong dari raja Panggalamei karena dia telah merasa malu dan takut.
Tigalupuluh tahun telah berlalu setelah ia membunuh Samuel Munson dan Henry Lyman, sekarang tiba-tiba muncul Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, seperti yang datang dari langit duduk disampingnya, keadaannya sama seperti Samuel Munson dan Henry Lyman (= Sibontar mata = Sebutan orang Batak kepada orang Eropa).
Ancaman demi ancaman telah dilalui Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, yang paling hebat adalah kesepakatan para raja-raja dan masyarakat untuk membuat pesta di Bukit Siatas Barita, dengan tujuan untuk mempersembahkan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen kepada berhala di Bukit Siatas Barita pada Tgl. 23 September 1864. Para raja dan masyarakat yang setia mengikuti Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, menceritakan hal itu kepadanya, lalu Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, membuat lima belas surat kepada raja-raja, jika pesta itu diadakan jangan terjadi permusuhan. Salah seorang raja berkata kepada Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen: “Bersiaplah, sediakanlah langkahmu, sebab engkau akan mati”.
Rencana Tuhan lain daripada rencana manusia. Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun mempersiapkan dirinya untuk menghadiri pesta yang akan dilaksanakan di Pasar Sitahuru. Rumah pun telah disediakan raja-raja sebagai tempat penyembahan berhala bagi penghuni bukit Siatas barita. Begitu juga korban sembelihan seperti kerbau yang biasa dipersembahkan kepada berhala.
Menurut kebiasaan, jika diadakan penyembahan berhala kepada penghuni bukit Siatas Barita, selalu diawali dengan pemotongan kerbau yang akan dibagi-bagikan kepada masyarakat sebagai tanda keikutsertaan mereka menyembah berhala yang dianggap penghuni Bukit Siatas barita. Selama 4 – 7 hari, mereka menari-nari sambil mengelilingi kerbau yang dipersembahkan kepada berhala itu, sehingga kerbau itu menjadi busuk, lalu kerbau itu dibagi-bagikan kepada masyarakat yang menolak Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, dan mereka pun jatuh sakit.
Disamping menarinari, juga diadakan perkelahian anak-anak dan pemuda, yang dilanjutkan dengan perkelahian para bapak-bapak. Tetapi, hal ini tidak terjadi, sebab TANGAN TUHAN TELAH TERBENTANG DI SANA. Hati Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen sangat bersyukur kepada Tuhan, sebab para raja dan masyarakat telah menyembah Tuhan yang Mahakuasa melalui Yesus Kristus Raja Gereja.
Disaat pesta itu diadakan, raja Panggalamei pun datang untuk menagih tebusan seorang pemuda yang diselamatkan murid dari Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen. Dalam kesempatan itu Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen menceriterakan kasih karunia Allah, melalui pengampunan Yesus Kristus terhadap manusia yang penuh dosa, tetapi hal itu tidak masuk akal raja Panggalamei, sebab ia meniadakan kebenaran pem-bunuhan terhadap Pendeta Samuel Munson dan Henry Lyman, yang pada akhirnya raja Panggalamei di sambar petir, yang membuat tubuhnya mati sebelah  sampai pada hari kematiannya. Karena penyertaan Tuhan dan damai sejahtera telah terjadi saat itu maka seluruh raja dan pengetuai masyarakat meminta kepada Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen untuk menambah Pendeta di daerah Silindung.
Sebagai peringatan perjanjian itu, maka disebutlah tempat itu: HUTA DAME (= Kampung Perdamaian). Banyak hal yang telah terjadi di Huta Dame ini, orang-orang yang sudah dibabtis ditolak keluarganya dan mereka pun menjadi tinggal di Huta Dame. Begitu juga banyak orang yang mau menyerang, menyerbu rumah Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, tetapi semuanya gagal. Disaat suatu penyakit yang melanda Silindung, penyakit itu disebut “Penyakit robu”, semua orang penghuni Huta Dame selamat dari serangan penyakit itu. Semuanya itu terjadi, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Lukas 1: 37).  
10. Zoar – Pansur Napitu: Melihat perkembangan Kerajaan Allah di Silindung yang di dalamnya adalah (Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, Hutatoruan (Banuarea) dan Pansur Napitu), maka Pdt. Johansen yang baru saja datang dari Noordstrand bersama isteri Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, sekaligus ikut melayani di Silindung.
Selama pelayanannya di Silindung, ia pun mengalami banyak tantangan, raja-raja menolak dia di Hutabarat dan Panggabean, karena tidak ada uang seribu rupiah membayar tanah. Dan barang-barangnya pun habis dicuri orang yang tidak bertanggungjawab. Ia mengalami penyakit kakinya bengkak, sehingga sulit sembuh. Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen pun menjemput Pdt. Johansen dari Zoar Pansur Napitu untuk menjalani pemulihan.
Pdt. Johansen memberi nama pargodungan Pansur Napitu, ZOAR, karena Pdt. Johansen telah menyembuhkan seorang ibu yang dirasuki roh jahat. Ketika Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen menjemput Pdt. Johansen dari Zoar Pansur Napitu, maka semua orang yang menyembah berhala sangat bersukacita. Mereka mengadakan pesta besar-besaran, karena mereka menganggap keKristenan telah gagal dan dapat dikalahkan.
Di Zoar Pansur Napitu ini, telah terjadi pengakuan dari salah seorang yang masuk Kristen, yang mengatakan: “Berhala adalah pendusta dan penipu, hanya Tuhan Allah yang benar dan pantas di puji dan disembah”. Mendengar pengakuan ini alangkah senangnya hati Pdt. Johansen, sebab Firman Tuhan telah nyata dan menang di Zoar Pansur Napitu.

11.  Pada Tgl. 24 Desember 1868, Gubernur Padang yang bernama Ariens datang ke Huta Dame Silindung, untuk ramah tamah dengan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen. Menurut raja dan masyarakat saat itu, akan terjadi lagi peperangan Bonjol (= Perang Imam Bonjol – Paderi yang berpusat di Padang). Selama enam hari Gubernur Ariens di Huta Dame.
Dia adalah seorang saleh yang ikut serta mendukung pelayanan Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen. Disamping dukungannya kepada pelayanan Kerajaan Allah, mereka pun pergi ke Sigompulon Pahae melihat tempat berhala yang ada di Namora langit Sigompulon Pahae (= Tempat balerang, yang saat ini sedang di usahakan Uni Loka atau  gas bumi yang ada di Pahae).
Mereka sangat tercengang melihat belerang yang mendidih, karena tempat itu adalah air panas, yang didalamnya terjadi lumpur panas. Dari Sigompulon, mereka menuju Pangaloan dan Sipirok. Tugas mereka saat itu adalah, melepaskan setiap orang yang dililiti hutang dan pelepasan anak-anak yang diculik maupun yang dirampas secara paksa untuk mengharap tebusan.
  
12. Untuk mempermudah pelayanan di Silindung, umumnya di tanah Batak, maka Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, menyalin Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak Toba dan latin, pada tahun 1878.

13.  Menjadi Ephorus HKBP: Pada tahun 1881, Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, terpilih menjadi Ephorus pertama di HKBP, yang dijuluki sebagai Apostel orang Batak.

14.  Pada Tgl. 23 Mei 1918: Pelayanan terakhir Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen di Sigumpar – Porsea, sungguh luar biasa. Dia mengalami banyak cabaan. Anak dan anjingnya di racun masayarakat Sigumpar, anjingnya mati dan anaknya jatuh sakit.
Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen, tetap dalam pendiriannya berkata kepada raja-raja dan masyarakat Toba: “Mati atau hidup, Saya akan mendirikan rumah Saya di kampung kalian ini”, ujarnya.
Selama lebih kurang dua tahun Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen melayani orang-orang penyembah berhala di Sigumpar – Toba. Pada akhir hidupnya, ia pun mengalami penyakit, dan akhirnya ia meninggal dunia di Sigumpar (Persis di belakang Gereja HKBP IL Nommense Sigumpar – Toba).

Selasa, 29 April 2014

Sejarah Batu Gantung di Parapat, Sumatera Utara



 

ASAL MULA BATU GANTUNG

PENDAHULUAN
            Setiap Daerah pasti memiliki sesuatu yang khas dari diri mereka sendiri. Hal ini bisa saja mencakup legenda, objek wiasta, ada, bahasa, sejarah, dan hal lainnya. Daerah kita, Tanah Batak pun punya hal yang demikian. Salah satu daerah yang terkenal dari Tanah Batak yaitu daerah Simalungun, khususnya daerah Parapat. Tempat ini terkenal dengan objek wisatanya. Uniuknya, setiap objek wisata di daerah ini memilki mitos tersendiri, baik Danau Toba, Sigale-gale, batu gantung, dan lain-lain.
            Mitos-mitos ini pun memiliki banyak versi, tergantung sumber yang kita tanyakan. Mengapa demikian? Seperti yang kita ketahui, sudut pandang manusia berbeda-beda dan kemampuan seseorang menyerap dan menyalurkan cerita yang diwariskan turun temurun pun berbeda-beda.
            Berikut ini akan dipaparkan sebuah contoh mitos tentang batu gantung yang juga memiliki berbegai versi, namun yang akan dipaparkan hanya 2 contoh  saja .

ISI
            Objek wisata ini adalah salah satu objek wisata kebanggaan daerah Parapat. Tempat ini terletak di sekitar daerah Sibaganding Tua, kurang lebih sembilan puluh menit perjalanan dari daerah Siantar. Ada dua jalur untuk mencapai tempat ini. Dari daerah Sibaganding Tua hanya menghabiskan waktu lima menit saja namun tempatnya agak terpencil. Bila dari jalur umum, yang di pinggir jalan raya, akan menghabiskan waktu tiga puluh menit.
            Banyak versi mengenai cerita batu gantung. Adapun versi yang berhasil diperoleh dari penelusuran kelompok adalah sebagai berikut :
A.    Menurut: Ujianna Br. Ambarita ( 85 Tahun )
Ujianna, salah seorang penduduk atau warga desa Sibaganding Tua. Nenek ini lahir, besar, menikah dan sampai saat ini masih tinggal di daerah Sibaganding Tua, di mana peristiwa atau cerita Batu Gantung terjadi.

Asal mula Batu Gantung
Dahulu daerah Sibaganding merupakan suatu daerah yagn dipimpin oleh seorang Raja. Nama Raja yang memimpin di situ ialah Tuan Sinaga. Sang Raja ini mempunyai seorang putri yang bernama Duma br.Sinaga. Duma merupakan seorang yang seorang gadis yang sangat cantik di desanya itu. Duma mempunyai rambut yang panjang dan terurai hingga menyentuh tanah. Melihat keadaan sang putri yang sudah beranjak dewasa, maka tuan Sinaga ingin agar putrinya itu menikah atau dipersunting oleh seseorang. Di suatu saat sang raja memanggil Duma putrinya: mereka bercerita mengenai jodoh atau menjadi pendamping hidupnya ( dahulu hal ini sering terjadi, bahkan untuk menentukan jodoh atau pendamping hidup anak-anaknya, orang tua sangat berotoritas sangat tinggi ). Hal inilah yang terjadi terhadap sang putrid raja itu. Raja itu ingin agar putrinya menikah dengan paribannya atau anak ni namborunya. Setelah mendengar hal itu maka Duma menolak, Ia tidak mau segera menikah. Namun sang Raja bersikeras agar putrinya itu menikah dengan paribannya. Melihat Duma yang selalu menolah dan tidak ingin menikah dengan anak namborunya itu, maka sang Raja menawarkan “ Anak ni Raja “ kepada putrinya itu, Duma boleh bebas memilih anak ni Raja yang mana yang ingin dia pilih       ( dahulu sangat lazim jika seorang raja menjodohkan putra/i nya kepada putra/i raja yang lain ). Namun Duma kembali menolak, dia tidak menginginkan siapapun dari antara anak ni raja itu. Dia berkata bahwa dia tidak akan menikah dengan orang yang tidak disukai atau di cintai.
Mendengarkan penolakan sang putri itu, maka sang raja tuan Sinaga sangat marah kepada putrinya itu. Jika Duma tidak mau menikah dengan orang-orang yang telah ditentukan oleh sang raja, maka hendaklah Duma pergi dari rumah itu dan keluar dari perkampungan itu. Sebab Duma dianggap seorang gadis yang tidak patuh kepada orang tuanya. Namun sebelum putrinya itu meninggalkan rumah, sekali lagi sang raja menanyakan apakah sang putri mau menikah  dengan orang-orang yang ditentukan raja itu, namun Duma tetap denga satu jawaban bahwa ia tidak mau menikah dengan pilihan orang tuanya, karena tekadnya sudah bulat, untuk meninggalkan rumah dan kampung halamannya itu. Amarah sang raja pun memuncakdan dia bilang “boru naso si oloi  ajar do ho”!. Orang tuanya menyebutnya dengan “siboru nagigi” artinya wanita yang tidak mau menikah. Padahal si Duma ini seorang gadis yang pintar bertenun, bertenunu segala jenis ulos Batak.
Akhirnya pergilah si Duma dari rumah dan perkampungan itu. Dia tidak tahu kemana dia akan pergi. Namun ia akhirnya terus berjalan ke suatu puncak atau gunung mana tempat dia akan pergi dan tempat itu disebut si Gaung-gaung. Ternyata ketika ia pergi, ia diikuti oleh anjing kesayangannya. Karena sang putri tidak tahu harus bagaimana dan apa yang harus dilakukan akhirnya ia putus asa. Si Gaung-gaung ini merupakan tempat keramat yang dianggap tempat ini mempunyai penunggu yang mereka percayai pada saat itu. Sehingga pada saat itu Duma menyerahkan dirinya kepada            “ ompung mula jadi na bolon “, ( ompung mula jadi na bolon disini maksudnya kepada penunggu atau bahkan disebut begu yagn dipercayai oleh penduduk sekitar sebelum masuknya kekristenan ). Lalu Duma mempersembahkan dirinya dengan berkata : “buat ma ahu ale ompung mula jadi na bolon”, setelah berkata demikian maka penunggu atau begu yang ada di tempat itu bekerja dan mengikatkan rambut si Duma pada suatu batu. Sebelumnya Duma mendekatkan posisi anjingnya di dekat kakinya. Dengan perkataan “buat ma ahu” dan sepenuhnya menyerahkan diri kepada penunggu, maka akhirnya Duma dan anjingnya menjadi batu. Itulah awal sehingga terjadi batu gantung. Sebenarnya Duma bukanlah terjun atau hendak melompat ke danau, namun penunggu dan begu yang disituylah yang bekerja mengikatkan rambutnya ke batu sampai Duma dan anjingnya itu akhinya tergantung.
Menurut sang nenek ini, dahulu tempat di sekitar batu gantung itu sangat rawan, seram, dan angker. Banyak peristiwa yang terjadi dan hal-hal yang aneh di tempat ini. Setelah  peristiwa itu, banyak penduduk setempat itu lilu dalam hal kepercayaan, sebab mereka banyak menyembah atau memberi sesajen atau pelean  kepada arwah dari batu gantung itu. Mereka percaya bahwa batu gantung itu mampu memberi rejeki, kekayaan, kesehatan, dan lain sebagainya. Bahkan dulu, setiap orang yang berkunjung ke batu gantung tidak boleh mengenakan pakaian berwarna merah saat berkunjung akan celaka, karena si Duma tidak akan menjadikannya sebagai temannya. Bahkan yang paling ironisnya, tidak boleh dulu ada orang yang mengucapkan “batu gantung” alasannya bisa-bisa arwah yang di batu gantung itu akan marah dan melakukan suatu hal terhadap penduduk sekitar.
Banyak hal yang terjadi disekitar batu gantung, diantaranya : ketiak seorang tentara Belanda hendak menembak batu gantung dengan makdsud agar batu itu jatuh, namun batu itu tak kunjung jatuh. Maka sang tentara Belanda merasa marah sehingga ia mengucapkan cakap kotor. Ketika ia mengucapkannya, dengan sendirinya kapal yang dia tumpangi miring dan akhirnya terjatuh. Dan menurut penelitian bahwa kedalaman danau sekitar tempat itu sangat dalam.
Seiring masuknya kekristenan ke desa Sibaganding itu, maka dengan sendirinya penyembahan terhadap arwah-arwah disekitar batu gantung itu berkurang. Mereka mulai memeluk suatu agama. Bahkan setelah masuknya kekristenan, banyak hal positif yang telah terjadi. Karena tidak ada penyembahan dan tidak ada lagi orang yang memberi pele-pelean maka penunggu dan arwahnya dianggap tidak tinggal disitu lagi. Hingga sampai sekarang tidak ada lagi yang melakukan penyembahan atau memberi pelean kepada arwah yang disitu bahkan menurut nenek itu tidak ada lagi yang aneh yang terjadi disitu.
Akhir dari ucapan Duma kepada orang tuanya sebelum pergi dari rumah dan perkampungan ia bilang: “tung na so jadi tubu borum songon ahu”. Begitulah cerita dari seorang ompung yang benama Ujianna br. Ambarita yang notabene sebagai orang tertua yang tinggal di kampong itu, dari lahir hingga tua. Dan nenek itu berkata bahwa istri dari sang raja atau ibi dari Duma itu ialah br. Sirait.[1]

B.     Menurut Riorita br. Situmorang ( 58 Tahun )
Inang Riorita adalah salah satu seorang penduduk desa Sibaganding Tua, inang ini adalah seorang sintua HKBP Sibaganding Tua. Menurut beliau ceritanya sebagai berikut:
Duma adalah seorang putrid Raja. Duma yang dikenal orang sangat patuh terhadap orang tuanya, dan apa yang diperintahkan orang tuanya selalu ia laksanakan dan kerjakan. Duma pun akhirnya bertumbuh dan menjadi dewasa. Ia menjadi seorang gadis yang sangat cantik, ia mempunyai rambut yang sangat panjang terurai hingga hampir menyentuh tanah. Karena sudah dewasa, Duma mempunyai pacar atau laki-laki yang dicintainya, dan ia sudah mengikat janji dengan sang lelaki yang dicintainya itu. Namun orang tua Duma tidak mengetahui hal itu. Padahal ternyata ketika Duma masih kecil ia sudah ditunangkan dengan apriban atau anak namborunya, dengan kata lain si Duma telah “dipaorohon” kepada paribannya itu.
Disuatu ketika datanglah namborunya si Duma itu kerumah orang tua Duma atau itonya itu. Lalu ia mencari Duma dan ingin menceritakan suatu hal kepada “maennya” itu. Namborunya itu berkata : “anggi so tung di olio ho be anak ni na asing, Alana nunga dipaorohon ho na jolo tu pariban man, anakkonki” dan namborunya itu juga menegaskan bahwa  “na jolo nga huboan hami sipanganon tu jabu on, lao paorohon ho dohot pariban man jala dohot di najolo oppungmu mambege dohot mamereng I, jadi tung na so jadi be ho tu anak ni asing, ingkon tu pariban mon do ho!”. Mendengar perkataan namborunya itu Duma sangat terkejut, dan Duma berkata bahwa tidak pernah ada penjelasan atau ucapan dari bapaknya kalau dia sudah diikat janji atau di Paorohon kepada paribannya, sehingga Duma berkata dia tidak bisa menikah dengan paribannya sebab ia sudah sempat menerima janji seorang laki-laki yang dia cintai. Sebab tidak mungkin baginya untuk mengingkari janji kepada kekasihnya sebab dahulu ada “Umpasa” batak yang mengatakan bahwa “na mangose  padan tu riburna tu magona”. Duma tidak ingin melanggar umpasa itu, sebab dahulu apa yang disampaikan seorang itu boleh benar-benar terjadi.akhirnya namboru si Duma itupun menangis mendengar kalau si Duma sudah mempunyai lelaki yang dicintai dan kekasihnya. Sebab dahulu bapak Duma menyetujui kalau Duma dan paribannya itu di paorohon.
Tidak tahan mendengarkan penjelasan yang kuat dari mulut Duma dan namborunya itu juga tidak dapat membendung air matanya sehingga namboru Duma pergi kepada bapak Duma atau itonya itu dan menjelaskan semua yang terjadi dan mengatakan bahwa si Duma sudah menjalin hubungan dengan orang lain dan itu bukan dengan paribannya. Namborunya itu bertanya kepada itonya itu mengenai janji itu “mose”atau tidak ditepati. Padahal orang tuanya tadi tidak tahu juga kalau si Duma berpacaran pada orang lain. Melihat air mata namboru Duma atau ito bapaknya itu, maka sang bapak merasa iba melihat itonya menangis. Maka bapaknya memanggil putrinya si Duma dan dan meminta penjelasan bagaimana sebenarnya hal yang terjadi pada putrinya itu. Duma akhirnya menjelaskan semuanya kepada orang tuanya. Setelah mendengar penjelasan Duma, bapaknya sangat marah, Duma sangat ketakutan, sebab dia seorang yang sangat patuh pada orang tuanya, dan dia sudah menolak keinginan orang tuanya. Namun Duma tetap berkata bahwa dia tidak bisa menikah dengan anak namborunya/ paribannya itu. Namun sang raja ( bapak Duma )berkata : “ingkon tu paribanmi do ho, dang boi tu na asin, ingkon!!.
Mendengarkan suarau bapaknya yang sangat keras, Duma berdoa demikian : “oppung mula jadi na bolon, sahat tu ho ma ahu, molo ingkon songonon do, dang jadi ahu tu haholongan ni rohakki, jala dang jadi tu paribanki, jala sahat tu ho ma ahu oppung mula jadi na bolon!” ( artinya: tidak ada satupun yang mendapatkannya).
            Setelah itu akhirnya Duma pergi dari rumah, karena ia sudah di usir oleh orang tuanya sebab dianggap sebagai anak durhaka atau naso si oloi poda ni natorasna. Larilah dia dari perkampungan itu melalui kolong rumah mereka atau disebut bara ni jabu sebab dahulu, umumnya masih rumah panggung.
Dari bawah kolong rumah ia menuju ke suatu bukit atau gunung dan larilah di semak-semak itu. Kebetulan pada waktu itu daerah gunung itu kebakaran, tetapi ia tetap menembus api yang ada disemak-senak itu. ( kebakaran pada gunung atau bukit itu terjadi sendiri ) tanpa ada orang yang menbakarnya, dan bahkan sampai sekarang kebakaran pada gunung itu sering terjadi dengan sendirinya apalagi terjadi kemarau selama 2 bulan atau lebih, hal ini memungkinkan karena batu yang satu bergesekan dengan batu yang lain dan karena pengaruh tanah matahari selama 2 bulan, sehingga menimbulkan api dan terjadilah kebakaran. Setelah menembus semak yang terbakar sampailah ia di suatu tempat, tempat itu adalah batu-batu yang dipercayai oleh penduduk sekitar situdan terdapat penunggu atau begu. Maka sampailah dia disana. Duma putus asa dan tidak tahu kemana ia harus pergi, Duma berkata “molo toho do adong maringanan di batu on, alap ma ahu; alai molo so adong do, tao on ma mambuat ahu, Alana tung na so jadi ahu mulah be ahu”. Saat itu anjing Duma ikut atau datang dari belakang mengikutinya.
Duma akhirnya hendak melompat ke danau itu, sebab tiga kali ia menoleh kebelakangnya untuk mempersembahkan dirinya kepada makhluk yang ada atau penunggu disitu. Lalu akhirnya duma berlutut marsinggang pasahathon dirina namun tidak ada apa-apa yang dilihat di sekitarnya. Duma berfikir kembali namun tetap saja hatinya tidak ingin kembali kepada orang tuanya, tekadnya sudah bulat. Dia sudah habis fikir, lalu di lompatnyalah ke danau itu namun karena rambutnya yang sangat panjang teruraimaka sangkutlah rambutnya itu di batu dan dia akhirnya tergantung dan begitu juga dengan anjingnya Duma ikut melompat, ketika melompat anjingnya menjadi batu dan tergantung. Itulah sebabnya terjadi batu gantung.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Inang br. Situmorang ini, bahwa dahulu juga di daerah batu gantung itu sangat seram dan angker. Dahulu tidak boleh ada orang/pengunjung yang datang ke tempat ini dengan mengenakan pakaian berwarna merah, karena penunggu-penunggu di situ suka akan hal-hal yang berwarna merah. Bahkan dulu ketika bulan purnama, banyak orang disitu/ penduduk desa itu yang mangangguki atau menangis disitu memberi sesajen atau pele-pelean kepada arwah penunggu disitu agar diberi rezeki, kesehatan, hamoraon, hagabeon, dan hasangapon. Inang br. Situmorang menceritakan tentang seorang tentara Belanda yang mencoba menembak batu itu agar jatuh, ketika itu juga penduduk disana menyadari kekeliruan kepercayaannya. Namun seiring perkembangan zaman dan masuknya kekristenan maka hal-hal seperti semakin terkikis dalam kehidupan masyarakat. Tidak ada lagi yang melakukan penyembahan di batu gantung itu dan mereka sudah memeluk agama dan tidak percaya lagi pada hal-hal takhyul seperti itu. Dan menurut mereka, tidak ada lagi penunggu yangberdiam disitu sebab tidak ada lagi orang yang mamele atau memberi sesajen. Inang ini mengatakan penunggu itu betah bila di beri sesajen dan jikalau itu tidak dilakukan maka dengan sendirinya begu atau penunggu itu akan pergi atau berpindah.[2]

KESIMPULAN
            Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan sebelum masuknya kekristenan ke daerah Sibaganding Tua, masyarakat setempat sangat marak melaksanakan pemujaan atau pameleon terhadap begu atau penunggu yang diam di batu gantung. Tetapi sesudah kekristenan masuk ketanah batak, pemujaan itu sudah semakin berkurang .
            Memang versi cerita tentang batu gantung banyak, namun ada beberapa hal yang sama dengan yang lainnya, yaitu tentang nama tokoh, tempat kejadian, dan masalah awal, juga akhir cerita sama. Perbedaan terlihat dalam jalan cerita, dan beberapa hal lainnya. Ini mengindikasikan bahwa sumber pertama adalah satu orang. Karena keterbatasan alat komunikasi dan kemampuan manusia, maka penyampaian cerita ini keberbagai tempat, daerah, bahkan orang menjadi berbeda satu dengan yang lainnya.





[1]  Wawancara dengan ompung Ujianna br. Ambarita , sabtu 22 september 2007 pukul 14.00 sampai selesai, di rumah narasumber di Sibaganding Tua.
[2] Wawancara dengan narasumber st.Riorita br. Situmorang , minggu 23 september 2007 pukul 15.00 sampai selesai di rumah amang Sinaga /br. Hutabarat di desa Sibaganding Tua.

Sabtu, 26 April 2014

Sejarah Sigalegale (Agama Suku dan Kebatinan)








LEGENDA SIGALEGALE

I.              Pendahuluan
Sumatera Utara merupakan bagian wilayah dari pulau Sumatera yang masyarakatnya sebagian besar dikenal dengan orang Batak. Masyarakat Batak tersebut tentunya mengalami berbagai peristiwa-peristiwa kehidupannya mulai dari masa terbentuknya mereka sebagai suatu bangsa yang terus bergenerasi hingga saat ini, dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mereka sebagai masyarakat yang dapat dikenal dan memiliki suatu pengakuan dari masyarakat sekitarnya.
Faktor alam atau lingkungan merupakan salah satu penyebab terbentuknya suatu model atau gaya dari suatu daerah, begitu pula yang dialami oleh orang Batak. Faktor alam mereka mempengaruhi gaya hidup dan juga bentuk kepercayaannya. Cerita-cerita yang terus diwarisi dari generasi ke generasi merupakan cara untuk tetap menjaga tradisi dan juga supaya tidak punahnya sejarah kehidupan bangsa tersebut.
Legenda-legenda yang merupakan bentuk dari cerita kehidupan masyarakat menjadi suatu pedoman untuk mengatur atau mengerahkan kehidupan untuk lebih baik. Legenda-legenda masyarakat sungguh banyak, misalnya Legenda Batu Gantung, Legenda Tunggal Panaluan, Legenda Danau Toba, Asal Mula Orang Batak, Legenda Sigalegale dan lain sebagainya. Kesemuanya itu adalah cerita-cerita yang mempengaruhi kehidupan orang Batak dalam kebudayaan dan kepercayaan mereka. Untuk hal itulah maka kami dari kelompok akan menyajikan salah satu legenda Batak yang mempengaruhi sistem kehidupan kebudayaan dan kepercayaan orang Batak. Ada pun legenda yang kami akan ceritakan adalah legenda Sigalegale yang memiliki makna budaya dan kepercayaan masyarakat Batak seluruhnya terkhusus masyarakat Batak di Toba.

II.    Cerita Sigalegale
Pada masa yang silam, apabila seorang terkemuka meninggal sebelum mempunyai anak sebagai penyambung keturunan, dianggap merupakan kesialan. Untuk mencegah supaya nestapa seperti itu tidak berulang kembali, maka  diadakanlah tarian duka menggunakan boneka dari kayu.
Boneka tersebut bentuknya seperti manusia, kepalanya dilumuri dengan kuning telur. Giginya dicat hitam menggunakan jelaga baja, pada lekuk mata dilekatkan buah berwarna merah. Boneka diberi pakaian ulos Batak, di atas kepalanya dilekatkan rambut kuda atau ijuk, atau diberi ikat kepala. Selanjutnya boneka diletakkan di atas papan beroda, lalu ditarik berkeliling kampung. Kaum kerabat memeluk boneka sambil menangis tersedu-sedu, sebagai tanda perpisahan untuk selamanya. Jika boneka duka diarak di kala terang bulan, akan membawa suatu perasaan pilu dan mengharukan. Pada malam terakhir acara tari-tari duka itu, boneka dibawa keluar kampung, lalu dicampakkan ke Danau Toba, maksudnya supaya di masa yang akan datang, tidak berulang lagi nasib seperti yang dialami oleh keluarga yang malang itu.
Sigalegale adalah sebuah patung yang terbuat dari kayu. Konon, kayu yang digunakan untuk membuat patung tersebut adalah “Hau Pokki” (Kayu Pokki). Di daerah Kalimantan, kayu tersebut dikenal dengan sebutan “Kayu Ulin” (Kayu Besi). Berdasarkan informasi yang ada, pada tahun 1980-an, Sigalegale dimainkan dengan diiringi Gondang Hasapi (Alat musik yang menggunakan alat musik kecapi, dan dalam memainkan Gondang Kecapi ini sangat diperlukan unsur perasaan. Alasannya adalah karena Gondang Kecapi ini terkesan lebih syahdu dan lembut) dan bukan Gondang Bolon (Alat musik yang tidak menggunakan alat musik kecapi)  dan tidak lagi mengandung unsur mistis. (Dulu, pada waktu Dr. I. L. Nommensen datang ke tanah Batak, Gondang Bolon tersebut adalah salah satu kebudayaan yang sangat ditentang oleh Nommensen dari sekian banyak kebudayaan lainnya, karena dulu pemakaian Godang Bolon tersebut identik dengan magis atau mistik). Pertunjukan Sigalegale pun sudah menggunakan tali yang kemudian ditarik oleh dua orang dalang dan lima orang pemain musik.
Seiring dengan majunya zaman, apalagi di zaman sekarang ini, maka dengan sendirinya pemikiran manusia pun akan berubah, terutama dalam hal kebudayaan. Akhirnya, keinginan masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan Sigalegale pun semakin berkurang dan dalang yang memainkan Sigalegale ini pun berkurang menjadi satu orang dan alat musik yag digunakan pun menjadi alat musik yang sudah dikasetkan.
Tidak ada sumber yang pasti untuk legenda Sigalegale ini. Banyak versi yang beredar untuk menceritakan legenda tersebut. Namun semuanya itu mengandung makna dan pesan yang sama. Untuk itu kami memilih beberapa cerita yang memiliki cerita yang memiliki kesamaan dan juga lebih menyentuh kepada kepercayaan dan kebatinan.

Menurut cerita dari bapak Jimmy Sigiro[1] seorang dalang[2] patung Sigalegale asal mula boneka duka (Sigalegale) itu adalah sebagai berikut:

Sekitar ± 300 tahun yang lalu, seorang keturunan si Raja Batak yaitu Raja Rahat yang konon adalah seorang raja yang kaya dan memiliki banyak tanah yang berada ± 50 Km dari Tomok, di sekitar pegunungan Desa Lumban Suhi (saat ini kerajaan itu sudah tidak terlihat lagi). Si Raja Rahat hanya memiliki satu orang anak saja yaitu si Raja Manggele. Pada usianya yang menjelang dewasa, ± 15 – 16 tahun, si Raja Rahat memerintah si Raja Manggele untuk memperluas daerah kekuasaannya, yang mana dalam hal itu mereka harus berperang. Menurut cerita, si Raja Manggele adalah seorang anak yang patuh kepada orang tuanya, sehingga dia pun menyanggupi perintah ayahnya tersebut.
Kemudian ia bergegas pergi ke daerah yang hendak dikuasai, bersama dengan prajurit-prajurit ayahnya. Melihat semangat si Raja Manggele, si Raja Rahat sangat senang melihat anaknya dan ia sangat mengasihi si Raja Manggele. Namun, kebahagiaan dan kesenangan itu tidak bertahan lama. Dalam peperangan itu Raja Manggele terkena musibah. Ia terkena panah sehingga terluka cukup parah. Pada saat itu, Raja Manggele masih sempat bertahan dan masih sempat diobati oleh “datu-datu (Dukun)”. Namun sangat disayangkan, usaha para datu tersebut ternyata sia-sia. Mereka tidak mampu untuk mengobati luka yang dideritanya, sehingga si Raja Manggele pun meninggal. Berita kematian Raja Manggele itu tersiar ke seluruh lapisan masyarakat. Kemudian sampailah kabar ini kepada si Raja Rahat dan ia pun sangat terkejut dan sangat menyesal karena telah menyuruh anaknya untuk ikut berperang. Setiap hari si Raja Rahat hanya bisa menangis. Ia prustasi dan bahkan kelihatan layaknya seperti orang gila. Si Raja Rahat menyalahkan dirinya karena ia yang telah mengakibatkan semua itu. Setiap hari si Raja Rahat hanya bisa meratap dan terdiam mengingat kejadian itu.
Pada saat itu sistem kehidupan masyarakat adalah apabila seorang raja mengalami musibah maka dengan sendirinya, masyarakat pun ikut sedih. Di kemudian hari, datanglah seorang datu kehadapan si Raja Rahat. Dia mencoba menghibur raja dengan mengusulkan untuk membuatkan baginya sebuah patung yang konon akan dibuat menyerupai wajah Raja Manggele, anaknya. Raja setuju dan proses pembuatan pun dilakukan. Namun datu itu tidak berhasil karena dia tidak memiliki kekuatan naturalis yang cukup untuk membuat patung itu. Akhirnya, ia mengumpulkan datu-datu besar sebanyak enam orang. (Menurut cerita dari Bapak Jimmy Sigiro, salah satu dari para datu yang membuat patung tersebut adalah marga Sinaga yang sampai saat ini masih hidup). Dengan ilmu kebatinan yang mereka miliki, mereka mencoba memahat kayu dan membuatnya persis menyerupai si Raja Manggele. Konon para datu tersebut tidaklah mengenal si Raja Manggele, namun dengan ilmu kebatinan yang mereka miliki, mereka mampu membuat sebuah boneka manusia yang terbuat dari kayu yang mirip dengan si Raja Manggele. Kemudian patung si Raja Manggele itu dipakaikan ulos serta tali pengikat kepala dengan tiga macam warna yaitu merah, hitam dan putih.
Setelah semuanya siap, kemudian patung si Raja Manggele tersebut dimasukkan kedalam peti. Hal itu dilakukan untuk masuk kedalam tahap berikutnya yaitu untuk menghidupkan patung itu. Ketujuh datu dengan bantuan pemain musik “Gondang Bolon” memanggil jiwa si Raja Manggele untuk merasuki patung tersebut. Kemudian, patung itu dapat bangkit dari peti itu dan patung tersebut mampu untuk menggerak-gerakkan badannya layaknya manusia (manortor). Gondang yang dipakai untuk memulainya adalah dimulai dari “Gondang Mulamula” sampai dengan “Gondang Hasahatan”. Melihat keberhasilan itu, akhirnya mereka berembuk untuk mempertunjukkan patung tersebut di hadapan si Raja Rahat. Kemudian mereka pun pergi  ke halaman rumah si Raja Rahat dan mereka pun mulai membangunkan patung tersebut dengan bantuan alat musik Gondang Bolon. Di saat si Raja Rahat mendengar suara gondang tersebut, ia keluar dan turun ke halaman rumahnya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Setelah melihat patung tersebut bisa “manortor” dan menyerupai anaknya si Raja Manggele, si Raja Rahat sangat senang melihat hal tersebut dan ia pun mulai tersenyum bahagia karena ia masih bisa merasakan anaknya seolah-olah hidup kembali. Oleh karena hal itu si Raja Rahat pun kemudian mengucapkan terimakasih kepada para datu yang telah berhasil membuat patung yang menyerupai anaknya itu. Si Raja Rahat pun menyimpan patung itu di dalam rumahnya. Sesekali, jika Raja rindu dengan anaknya si Raja Manggele, ia kembali memanggil ketujuh datu itu untuk mempertunjukkan dan mempertontonkannya di tengah-tengah masyarakat. Dengan melihat patung itu dapat “manortor” dengan lemah gemulai mengikuti irama gondang yang dimainkan oleh para datu, patung itu pun berubah nama yang dulunya adalah si Raja Manggele, kemudian diberi nama “Sigalegale”.

Sedangkan versi dari buku Batak Toba Kehidupan di Balik Tembok Bambu[3] mengisahkan ceritanya adalah sebagai berikut.
Di dalam sebuah kampung di Toba, terjadi duka yang sangat dalam karena putra, tunggal seorang pemimpin yang terpandang meninggal dunia. Ayahnya sangat terpukul, karena tidak ada lagi anaknya yang akan meneruskan keturunan. Bagi orang Batak yang menganut paham patriarchal[4], kematian anak laki-laki satu-satunya itu berarti punahnya sebuah cabang keluarga. Si ayah sangat sedih dan sangat rindu kepada anaknya yang sudah meninggal, siang dan malam dia mengharapkan kalau saja dapat menatap wajah anaknya barang sekali saja. Pada suatu hari dia mengambil sepotong kayu dan mengukir patung manusia, bentuk dan corak wajahnya sangat menyerupai anaknya. Untuk mengenang putranya yang berumur pendek itu, ia menggerak-gerakkan boneka kayu tersebut sebagaimana ia pernah lakukan ketika anaknya masih hidup. Setiap bulan purnama menampakkan diri dan bintang-bintang bertaburan di langit, si ayah duduk di depan rumah dikelilingi oleh penduduk kampung. Dia menarik-narik lengan dan anggota tubuh boneka kayunya, sehingga kelihatan seperti orang yang sedang menari-nari. Semua yang hadir merasa iba dan turut bersedih hati. Para pria terenyak menyaksikan hal tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata karena turut bersedih., Ibu-ibu sambil duduk ikut menangis tersedu-sedu, karena anak tunggal itu telah pergi dan tidak  akan  pernah kembali lagi.
Tarian boneka duka itu berlanjut terus dari waktu ke waktu, dan ditiru oleh orang-orang yang mengalami penderitaan yang sama seperti si ayah, suatu cara melampiaskan kerinduan kepada putranya yang sudah tiada.
Semakin lama boneka duka semakin disempurnakan, wajahnya diperindah, tariannya juga dibuat bertambah gemulai. Tarian boneka duka semakin bertambah lentik tak ubahnya seperti kupu-kupu yang sedang mengibas-ngibaskan sayapnya, dan boneka itu diberi nama Sigalegale (gale artinya lemah, tetapi dapat juga diartikan lentur-gemulai, karena jari-jarinya bergerak cekatan seperti penari serimpi).
Lama kelamaan Sigalegale tidak berfungsi hanya sebagai pelipur lara mengenang anak yang sudah tiada, tetapi juga berfungsi untuk menangkal malapetaka dan mengusir hal-hal yang buruk (papurpur sapata).
Sigalegale yang terbuat dari patung kayu, menggambarkan seorang manusia lengkap dengan tangan dan kaki yang dapat digerak-gerakkan. la berdiri di atas sebilah papan kayu yang mempunyai roda, sehingga dapat ditarik maju-mundur. Kepala boneka tersebut juga terbuat dari kayu (bentuknya tidak begitu halus), tetapi matanya dari logam (seng). Wajahnya dibungkus dengan kapur putih yang dilumuri dengan kuning telur bercampur kunyit. Di atas kepalanya dililitkan sejenis ulos, yang disebut tali-tali. Leher patung yang bentuknya seperti alu, dimasukkan ke dalam sebuah tiang atau pasak yang sudah diberi lubang, sehingga leher dan kepala dapat berputar ke segala arah. Pada badan boneka diikatkan dua tangan dari kayu berwarna cokelat tua; siku dan pangkal bahu dapat digerak-gerakkan ke atas maupun ke bawah, demikian juga jari-jarinya sangat lentur bila menari. Seorang pemegang tali kendali, duduk di belakang Sigalegale; dengan piawainya dia dapat menggerak-gerakkan seluruh tubuh boneka tersebut mulai dari kepala, tangan dan bahu.
Orang Batak yang animis percaya, orang yang meninggal tanpa keturunan akan masuk ke dalam Banua Toru bersama begu (roh jahat) yang derajatnya paling rendah. Mereka tidak diberi nama. Di alam begu, derajat seorang roh sangat tergantung pada jenis dan banyaknya sesajen yang dipersembahkan keturunan atau keluarga kepadanya. Jika tidak ada keturunan yang mempersembahkan sesajen atau kurban kepada orang yang meninggal, maka derajatnya di dunia roh dianggap rendah dan tidak mungkin melebihi roh-roh lain. Akibatnya dia akan disamakan dengan roh jahat yang hina-dina. Supaya roh tersebut tidak sakit hati dan menaruh dendam kepada keluarganya yang tidak mempersembahkan kurban secara rutin, keluarganya berusaha memperdaya roh jahat. Diciptakan sebuah boneka kayu yang diberi peran sebagai anak kandung almarhum. Di atas mata boneka tersebut, ditempelkan lumut berisi air dan jika ditekan akan mengeluarkan air, seakan-akan air matanya jatuh bercucuran. Patung kayu itu dibuat seakan-akan dia adalah anak kandung almarhum yang sedang meratapi ayahnya. Dia menari dengan menggerakkan jari-jarinya yang lemah gemulai sehingga roh jahat terkecoh, dan mengira bahwa yang menari tersebut adalah anak almarhum. Selama acara kematian, boneka itu menari terus, maksudnya untuk memberi kedamaian kepada roh orang yang meninggal.
Jika seorang pria meninggal sebelum berumah tangga, berarti tidak mempunyai anak yang akan melanjutkan keturunannya. Di dunia roh dia akan dihina bahkan dikucilkan dari lingkungannya karena dianggap roh yang tidak berguna. Untuk menghiburnya supaya merasa aman dan damai, keluarga terdekat menempatkan sebuah joro (rumah tradisional dalam bentuk mini) di atas kuburannya. Pada joro itu digantungkan berbagai persembahan dan sesajen serta barang yang biasa dipakai almarhum sewaktu masih hidup. Lebih kurang dua bulan setelah kematian pria tersebut, diadakan pesta tarian Sigalegale di kampung. Semua keluarga dan sanak saudara serta seisi kampung diundang turut serta. Tamu-tamu disuguhi jamuan makan dan tuak yang berlimpah. Pesta itu berlangsung selama satu minggu, diiringi gondang Batak (orkes Batak). Sigalegale menari tiada henti-hentinya, di siang hari di bawah pohon hariara, di malam hari di udara terbuka diterangi bintang di langit. Pada hari terakhir tuan rumah membagi-bagikan daging kepada semua yang hadir. Sementara itu kepada Sigalegale dikenakan pakaian adat yang indah bertatakan perhiasan. Di pelataran kampung, Sigalegale menari terus diikuti “suhut (tuan rumah)”, beserta keluarga dan sanak saudara. Di penghujung acara semua yang hadir berpawai menuju kuburan, di barisan paling depan terlihat Sigalegale beserta joronya digotong beramai-ramai. Setelah tiba di makam, dipanjatkan doa takzim (tonggo-tonggo) memohon kepada roh leluhur supaya tidak terulang lagi nasib sial, meninggal sebelum memperoleh keturunan. Setelah selesai melakukan tugasnya, orang yang mengendalikan Sigalegale, bergegas pergi ke luar kampung; di sanalah dia mengasingkan diri selama satu malam. Tak seorang pun berani menampungnya di kampung, karena dianggap masih dirasuki oleh roh-roh orang mati yang belum puas dengan acara pesta kematian. Di kesunyian malam, roh-roh itu meninggalkannya tergeletak sendirian di lapangan terbuka.






III.   Kesimpulan
Perlu kita ketahui bahwa masyarakat Batak sangat kaya akan kebudayaan. Salah satunya adalah kebudayaan berupa legenda atau mitos. Legenda merupakan suatu cerita dari generasi ke generasi suatu bangsa atau suku, khususya masyarakat Batak. Legenda Sigalegale merupakan suatu warisan yang sangat berharga bagi orang Batak, karena dalam legenda tersebut tersimpan suatu bentuk kehidupan orang-orang Batak pada masa dulu dan tentunya masih memberi makna pada kehidupan sekarang dan akan datang.
Sigalegale yang pada saat ini menjadi sumber objek wisata di Tomok sesungguhnya dulu adalah suatu patung yang memiliki kesan magis dimana dalam pembuatannya itu digabungkan kekuatan batin tujuh orang dukun ternama pada masa itu sehingga patung itu dapat bergerak sendiri. Patung tersebut memberikan suatu pesan kehidupan yang menjunjung tinggi silsilah atau garis keturunan keluarga. Begitu besarnya kedudukan laki-laki dalam orang Batak sehingga patung Sigalegale tercipta sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam dari keluarga yang kehilangan garis keturunannya.
Begitu juga dengan unsur-unsur yang digunakan untuk membuat sebuah patung. Bagi orang Batak, misalnya “kuning telur”, mempunyai arti tersendiri bagi orang Batak yaitu sebagai simbol kehidupan dan unsur kuning telur menunjukkan raut wajah yang cerah dan lebih hidup. Begitu juga dengan warna “putih, merah dan hitam”. Bagi orang Batak, warna-warna tersebut mempunyai arti tersendiri.
Ada umpama/umpasa orang Batak mengatakan: “Ompu Raja di jolo martungkot sialagundi; Angka na uli tinonahon ni angka ompunta  na parjolo, siihuthonon ni hita angka na di pudi”. Maka dengan itu, kita sebagai orang Batak, khususnya sebagai Mahasiswa/i Theologia hendaknya ikut berperan serta dalam melestarikan budaya kita dan menjunjung tinggi kebudayaan kita, karena hal itu sangatlah berharga bagi kita. Satu hal lagi umpama/umpasa orang Batak mengatakan: “Sinuan bulu, sibahen na las; Sinuan adat dohot uhum, sibahen na horas”. Dari umpama/umpasa tersebut kita bisa mengetahui bahwa, legenda-legenda atau mitos-mitos yang ada dalam orang Batak mempunyai tujuan yang baik bagi kita semua.



****** H O R A S ******















Kepustakaan

Pendidikan Nasional, Departemen
2005         Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi  Ke-3, Jakarta: Balai Pustaka

Siahaan, Bisuk
2005      BATAK TOBA Kehidupan di Balik Tembok Bambu, Jakarta: Kempala Foundation


Wawancara:
Jimmy Sigiro (Ama Senton) adalah salah seorang yang memainkan patung sigalegale. Istrinya boru Sidabutar yang merupakan keturunan ketujuh belas dari Raja Sidabutar.


[1] Jimmy Sigiro (Ama Senton) adalah salah seorang yang memainkan patung sigalegale. Istrinya boru Sidabutar yang merupakan keturunan ketujuh belas dari Raja Sidabutar
[2] Dalang berarti orang yang mengatur (merencanakan, memimpin) suatu gerakan dengan sembunyi-sembunyi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi  Ketiga, 2005, hlm. 233
[3] Bisuk Siahaan, BATAK TOBA Kehidupan di Balik Tembok Bambu (Jakarta: Kempala Foundation, 2005), hlm. 359-363
[4] Patriarchal berarti garis kehidupan didominisi berdasarkan atas garis bapak, dalam arti lain yang menjadi dominan adalah berdasarkan garis bapak (laki-lakilah yang menjadi penentu)